February 3rd, 2009

Kebersamaan yang terus tertunda

Hmm…di antara waktu yang makin menipis ini, selalu saja muncul banyak hal yang mengganggu kebersamaan Kami. Kalo gak aku yang mesti ke luar kota untuk seminar, yah dia yang sibuk ngurusin kerjaan yang gak kelar2. Ditambah lagi kondisi Yuza yang sering gak fit bertepatan dengan agenda liburan keluarga yang sangat berharga.

Tapi apa yang bisa dilakukan klo sudah begini, mau marah2 juga rugi sendiri, sebel terus ya bikin capek juga.  Tepaksa deh ihlas aja menerima situasi (ikhlas koq terpaksa ya :)). Semoga tergantikan di lain waktu.

January 28th, 2009

Kisah Kita Berawal di Januari

Kalo di salah satu lagunya, Glen Fredly melantunkan bait “…kisah kita  berakhir di Januari” maka sepertinya lagu tersebut tidaklah cocok jika dijadikan “theme song” untuk mengambarkan cerita kasih Kami (Aku dan Suami). Bagi Kami, semua kisah kehidupan sebagai patner hidup justru berawal di bulan pertama penanggalan masehi ini.

Sudah 3 tahun berlalu sejak Kami mulai mengayuh bersama perahu kehidupan yang disebut rumah tangga dengan bermodalkan niat dan tekad untuk mewujudkan suatu formasi berkeluarga yang juga diidamkan oleh banyak orang, yaitu yang sakinah, mawadah dan warrahmah. Berbekal restu dan doa dari orang tua dan keluarga lainnya, Kami berusaha terus mengayuh walau kadang kala tergoyahkan oleh riak-riak keegoisan, kesalahpahaman, dan bahkan kecemburuan. Tidak mudah memang bagi Kami, membangun kekompakan dengan perbedaan latar belakang yang cukup mencolok. Aku yang berdarah Sumatra, dibesarkan dalam keluarga multi etnis dan agama. Darah tionghua pun masih cukup kental mengalir dalam nadiku yang kemudian teraktualisasi secara nyata melalui mata ku yang sipit dan kulitku yang putih. Sedangkan suamiku adalah sosok lelaki Jawa yang dibesarkan dalam keluarga yang juga sangat menyanjung nilai-nilai kejawaannya. Di masa-masa awal, banyak percikan yang timbul, terutama antara aku, seorang menantu yang cenderung frontal dan rasional, dengan keluarga suamiku yang mengkategorikan sepak terjang ku sebagai tindak tanduk yang menjurus tidak sopan. Kalo sudah begitu suamiku lah yang harus bersusah payah menyatukan perbedaan sikap macam ini.

Tepat setahun setelahnya, sehari sebelum usia pernikahan Kami menginjak tahun kedua, tangis bayi laki-laki mungil nan lucu menjadi kado terindah buat Kami dan juga seluruh keluarga. Tak henti-hentinya Aku bersyukur atas kemurahan hati Allah yang menghadirkan matahari kecil dalam momentum yang sangat tepat. Yuza, begitu nama panggilannya, adalah cucu pertama dari kedua belah keluarga. Kekacauan pun sempat mencuat sesaat setelah dia hadir dan lagi-lagi berawal karena perbedaan latar belakang  kedua keluarga yang hidup di dua pulau berbeda berbatas selat Sunda ini. Perawatan ibu dan anak pasca melahirkan menjadi pemicu hebat yang membuahkan tangis di kedua pasang nenek dan kakek baru ini. Adat Jawa yang diusung ibu mertuaku tidaklah mungkin sama dengan adat Tionghua yang diusung oleh ibuku. Walhasil, aku yang masih cukup bingung menjadi ibu baru dilanda depresi berkepanjangan yang mengarah kepada gejala Baby Blues. Sekali lagi, suamiku harus memutar otak untuk mengatasi kemelut ini dan membuat semua pihak menjadi nyaman dan tak tersakiti.  

Seiring berjalanya waktu, Aku yakin proses pembelajaran itu tak pernah berhenti. Lambat laun semua mulai belajar memahami satu sama lain, terlebih lagi antara aku dan keluarga suami ku yang hidup berdekatan. Aku mulai belajar cara “bersopan santun” dan mereka mulai menerima sikap spontan yang kutunjukkan sebagai suatu bentuk kejujuran. Profesi utama Kami saat ini, sebagai seorang ayah dan ibu juga makin mendewasakan aku dan suamiku. Kami pun percaya, 3 tahun yang telah dilalui tidaklah cukup untuk mengantarkan Kami ke pelabuhan hidup yang sesungguhnya. Semoga 3 tahun ini berlanjut  hingga 30 tahun dan seterusnya, hingga Allah memerintahkan Kami untuk kembali kepada Nya.

December 3rd, 2008

Demi waktu…

POsting ini baru masuk ke emailku. Membacanya membuat hatiku bergetar, mata juga berkaca-kaca. Pikiran juga melayang ke Yuza, buah hatiku yang mungkin sedang tidur siang atau malah bermain. AKu membayangkan anak kecil yang ada dicerita itu adalah anakku. Akankah dia juga akan mengeluhkan waktu bermainnya yang sangat minim dengan kedua orang tuanya selama ini. Suamiku bekerja tiap hari di mulai tiap pagi sesaat setelah subuh dan baru akan pulang sesaat sebelum magrib. Aku sendiri mungkin bukanlah sosok ibu yang idea. Sebagai seorang dosen, waktu kerjaku memang cukup flexibel, tapi tak jarang juga aku harus mengikuti seminar ataupun pelatihan di luar kota. Kondisi ini menyebabkan anakku yang baru bertumbuh itu seringkali lebih banyak menhabiskan waktunya dengan nenek dan kakeknya ataupun pembantu. Saat ini, aku memeng menhadapi situasi yang cukup dilematis. Rencana studi lanjutku ke OZ tinggal di depan mata. Walaupun sudah kubulatkan tekad dengan berbekal izin suami dan keluarga besar serta nawaitu yang baik untuk mecari ilmu, tetap saja ada perih yang terasa. Ya Allah…aku mohon petunjuk dari Mu, lapangkan lah jalanku. Ku titipkan anak, suami dan keluargaku pada Mu.

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD
membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi
hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa
sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar
10jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,
sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah
berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu
jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur”
perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,
“Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi.
Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis.
“Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya.

Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.
15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah.
Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?
Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.”

Jangankan Rp.5.000,-
lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam.
Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan
selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga.
Tiga puluh menit aja.
Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku
mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi..
karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,-
maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-.
Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru.
Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama
ini,
tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“Bagi dunia kau hanya
seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah
dunianya”

..Nice story…money is important but certainly not everything.. .(but something :)

November 19th, 2008

Dilema : Itulah Indonesiaku

Beberapa hari lalu, aku datang ke kantor imigrasi di kota tempat ku berdiam saat ini, berniat mengurus paspor hijau dalam rangka mempersiapkan keberangkatan untuk studi lanjut di Oz. Semua dokumen yang sekiranya akan dibutuhkan sudah ku persiapan maklum belum beberapa lama ini teman2 sekantor juga sudah mengurus paspor untuk tujuan yang sama. Dari mereka banyak cerita yang kudapat, terutama mengenai prosedur pengurusan paspor yang cukup memakan waktu lama. Seorang teman ku akhirnya memakai jasa calo karena malas untuk membuang waktu lama menunggu antrian yang bisa memakan waktu seharian. Seorang temanku yang lain (yang memang cukup idealis) memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri, tanpa menggunakan jasa calo tentunya. Walhasil, walaupun dia yang datang paling pagi tapi terpaksa pulang cukup sore. Katanya seh, berkasnya selalu ditumpuk dibawah berkas2 yang dibawa oleh calo.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengurus sendiri, tanpa menggunakan jasa calo. Hari itu, Aku berangkat ke kantor imigrasi sepagi mungkin dengan harapan bisa mendapatkan antrian awal sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama. Setibanya disana, saat memarkirkan mobil, ternyata banyak calo yang langsung menawarkan jasanya. Aku pun harus bersusah payah menolak tawaran yang sedikit memaksa tersebut. Sesampainya di pintu masuk, aku membaca pengumuman yang intinya melarang masyarakat untuk menggunakan calo dalam segala urusan di kantor imigrasi tersebut. Sungguh kontradiktif dengan fakta yang baru saja kutemui di halaman depan dimana para calo paspor secara nyata berkumpul dan beraksi. Di dalam, setelah sesaat celingak-celinguk karena bingung, aku akhirnya diberi penjelasan mengenai langkah2 pembuatan paspor. Pertama, aku diminta untuk membeli formulir seharga 12 ribuan, untuk kemudian diisi. Setelah itu, formulir dikembalikan ke petugas dan aku pun diminta untuk menunggupanggilan berikutnya. Selama menunggu, aku melihat beberapa orang (sepertinya bukan petugas karena tidak berseragam seperti yang lainnya) masuk dengan membawa setumpuk berkas yang mirip dengan formulir yang baru saja kuiisi. Pikiranku pun melayang teringat pengalaman temanku kemarin. Melihat tanda-tanda hal itu akan terjadi juga padaku, akhirnya aku menyerah. Dengan terpaksa (daripada aku harus menghabiskan waktu untuk menunggu) aku memutuskan untuk menelpon salah satu saudara ku yang kebetulan mempunyai kenalan di kantor tersebut. Lewat hubungan baik yang terjalin, proses pebuatan paspor yang kujalani berikutnya berlangsung cukup lancar dan aku pun tak harus menunggu terlalu lama. Menjelang azan dzuhur, aku sudah diambil fotonya dan setengah jam kemudian aku sudah diperbolehkan pulang. Aku pun membayar sebesar 270 ribu rupiah, seperti yang tercantum di papan pengumuman, tanpa biaya tambahan (kalo menggunakan jasa calo bisa mengeluarkan uang 2 kali lipatnya).  

Sebenarnya, hati kecilku berteriak tidak setuju dengan cara seperti ini. Aku merasa secara tidak langsung telah merugikan orang lain yang mungkin juga sedang mengantri. Tetapi, di sisi lain aku juga merasa sudah dirugikan terutama oleh pengantri lain yang menggunakan jasa calo. Kadang kala, di negeri kita tercinta ini, menjadi orang yang “lurus” bisa-bisa susah sendiri. Yah, pada akhirnya, seperti kata seorang teman, aku menyadari bahwa hidup itu tidak hanya hitam dan putih, tetapi juga ada warna abu-abu. Mungkin kejadian ini adalah sedikit bagian yang berwarna abu-abu dalam hidupku. Biarlah Allah yang menilai.

October 23rd, 2008

Berasa Tua

Berasa tua, itulah yang ku rasa kan saat ini. Dah hampir setengah jam aku duduk di depan salah satu kompie yang ada di salah satu warnet dekat rumah. Disekelilingku terlihat banyak anak2 remaja berseragam sekolah SMP dan SMA yang juga sedang menjelajahi dunia maya. Entah situs apa yang mereka singgahi aku tak tahu, tetapi sebagian besar duduk bergerombol bersama 2 atau 3 orang temannya sambil sesekali tertawa riuh. pemandangan ini mengingatkan ku pada masa lalu saat aku seusia mereka, saat  itu aku pertama kali mengenal kecanggihan teknologi yang namanya internet. Seperti mereka, aku juga sering menghabiskan waktu di warnet bersama teman-teman, terutama untuk chatting. Memang aku sangat lama tidak lagi menginjakkan kaki ke warnet karena biasanya untuk akses internet aku menggunakan fasilitas wi fi di kantor atau menggunakan HP di rumah. Yah…aku tidak lagi belia, tapi sejenak mengenang masa-masa belia dulu cukup mengelitik hati dan perasaan ku. Terima kasih ya Allah, Kau telah menganugrahkan hidup yang indah buatku.

October 15th, 2008

Semua Pasti Ada Hikmahnya

Setelah berusaha untuk negosiasi ke ANU mengenai jadwal keberangkatan ku, akhirnya tetap aja sepertinya aku harus berangkat April, di saat cuaca dah mulai dingin (seperti katanya Prima). Sebenarnya aku agak kwatir dengan arrangement itu, but aku yakin semua pasti ada hikmahnya. Mungkin Allah ingin aku tetap berada di Indonesia bersama suami, anak dan keluarga tercinta di saat ulang tahun pernikahan kami dan juga ulang tahun “Yuza” si matahari kecilku di akhir Januari besok sebelum aku terpaksa meninggalkan mereka untuk berburu ilmu ke negeri orang. What ever it is, thank God for being so nice to me.

October 13th, 2008

Alhamdulillah, but…..

Alhamdulillah, akhirnya ada angin segar mengenai placement process dari Pak Riza (ADS Officer). Di email yang beliau kirim, ada info bahwa aku akhirnya dapat conditional offer dari ANU (my first preference). But…ada hal kecil yang diluar prediksiku. Disana tertera bahwa aku dijadwalkan untuk berangkat akhir bulan April 2009, bukan bulan Januari 2009 seperti kebanyakan temen2 ADS awardees kloter ke 2 tahun 2008 (yang EAP nya bareng aku). Itu berarti kemungkinan besar aku akan berangkat sendiri dan celaka nya lagi aku akan memulai kegiatan akademik dulu sebelum diikutsertakan ke dalam IAP yang berlangsung bulan Juni-Juli 2009. Hiks…normalnya kan IAP dulu baru mulai program akademik secara IAP itu dirancang sebagai proses orientasi kita sebagai mahasiswa asing di lingkungan kampus yang totally baru. Hmm…just wish me luck, friends!

October 9th, 2008

Deg2an….koq belum datang juga ya?

Setelah tau kalo hasil ielts ku dah lolos, rasa penasaran dan was-was itu ternyata belum hilang juga. Hari-hari menunggu pengumuman hasil aplikasi ke uni di OZ selalu mendebarkan. Bertanya2 dalam hati, akankah aku diterima di uni pilihan pertama ku atau masih harus berjuang untuk mendaftar ke uni lain. Aku sangat berharap supaya aku diterima di ANU, bukan karena aku sangat ingin berkuliah di Canberra yang cuacanya kudengar cukup tidak bersahabat, melainkan karena terbayang repotnya jika sampai harus memulai proses aplikasi dari awal kembali. Mendaftar ke uni di OZ sebagai M.Phil (Master by Research) memang memakan waktu cukup panjang. Pertama, kita harus mencari uni yang punya research area yang sesuai dengan minat kita, kemudian kita harus menghubungi akademisi di sana yang potensial untuk jadi supervisor kita dan tahap ini tidaklah mudah. Sangat memungkinkan kita harus mempersiapkan berbagai dokumen hingga argumen yang menyakinkan keunggulan kita di bidang tersebut hingga si profesor bersedia membimbing kita kelak. Semua proses itu dah berhasil ku lewati hingga mendapatkan supervisor di ANU. Semoga semua itu tidaklah sia2.

October 6th, 2008

IELTS….Finally!

IELTS, kata sakti yang cukup bikin deg2an. Tiga bulan penuh perjuangan, jauh dari keluarga, alone in a big city, pikiran dan konsentrasi semuanya tercurah untuk itu. Lega rasanya setelah tau bahwa semua kerja keras itu tidak lah sia2. Belum maksimal memang, but…I have tried the best. Alhamdulillah, skor 7 dah cukup buat modal mendaftar ke uni di Oz. But.. it’s not the end yet. There is still a long road to go.

May 21st, 2008

Detik-detik perpisahan

Kenapa perpisahan seringkali menyedihkan? Meskipun perpisahan yang bakalan terjadi dalam waktu dekat ini sepertinya akan membawa kami skeluarga menapak ke hari depan yang lebih indah, tapi tetap saja sangat memberatkan hati. Meninggalkan suami, apalagi anak ..tak pernah terbayangkan. Tak rela rasanya kehilangan moment indah melihat yuza tumbuh tapi… sekali lagi, seperti bisikan orang-orang kepadaku bahwa “semua ini demi yuza…” maka aku harus kuat. Mohon doanya, semoga Allah meridhoi

Next Page »