Wednesday, November 19th, 2008...9:28 pm

Dilema : Itulah Indonesiaku

Jump to Comments

Beberapa hari lalu, aku datang ke kantor imigrasi di kota tempat ku berdiam saat ini, berniat mengurus paspor hijau dalam rangka mempersiapkan keberangkatan untuk studi lanjut di Oz. Semua dokumen yang sekiranya akan dibutuhkan sudah ku persiapan maklum belum beberapa lama ini teman2 sekantor juga sudah mengurus paspor untuk tujuan yang sama. Dari mereka banyak cerita yang kudapat, terutama mengenai prosedur pengurusan paspor yang cukup memakan waktu lama. Seorang teman ku akhirnya memakai jasa calo karena malas untuk membuang waktu lama menunggu antrian yang bisa memakan waktu seharian. Seorang temanku yang lain (yang memang cukup idealis) memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri, tanpa menggunakan jasa calo tentunya. Walhasil, walaupun dia yang datang paling pagi tapi terpaksa pulang cukup sore. Katanya seh, berkasnya selalu ditumpuk dibawah berkas2 yang dibawa oleh calo.

Akhirnya, aku memutuskan untuk mengurus sendiri, tanpa menggunakan jasa calo. Hari itu, Aku berangkat ke kantor imigrasi sepagi mungkin dengan harapan bisa mendapatkan antrian awal sehingga tidak perlu menunggu terlalu lama. Setibanya disana, saat memarkirkan mobil, ternyata banyak calo yang langsung menawarkan jasanya. Aku pun harus bersusah payah menolak tawaran yang sedikit memaksa tersebut. Sesampainya di pintu masuk, aku membaca pengumuman yang intinya melarang masyarakat untuk menggunakan calo dalam segala urusan di kantor imigrasi tersebut. Sungguh kontradiktif dengan fakta yang baru saja kutemui di halaman depan dimana para calo paspor secara nyata berkumpul dan beraksi. Di dalam, setelah sesaat celingak-celinguk karena bingung, aku akhirnya diberi penjelasan mengenai langkah2 pembuatan paspor. Pertama, aku diminta untuk membeli formulir seharga 12 ribuan, untuk kemudian diisi. Setelah itu, formulir dikembalikan ke petugas dan aku pun diminta untuk menunggupanggilan berikutnya. Selama menunggu, aku melihat beberapa orang (sepertinya bukan petugas karena tidak berseragam seperti yang lainnya) masuk dengan membawa setumpuk berkas yang mirip dengan formulir yang baru saja kuiisi. Pikiranku pun melayang teringat pengalaman temanku kemarin. Melihat tanda-tanda hal itu akan terjadi juga padaku, akhirnya aku menyerah. Dengan terpaksa (daripada aku harus menghabiskan waktu untuk menunggu) aku memutuskan untuk menelpon salah satu saudara ku yang kebetulan mempunyai kenalan di kantor tersebut. Lewat hubungan baik yang terjalin, proses pebuatan paspor yang kujalani berikutnya berlangsung cukup lancar dan aku pun tak harus menunggu terlalu lama. Menjelang azan dzuhur, aku sudah diambil fotonya dan setengah jam kemudian aku sudah diperbolehkan pulang. Aku pun membayar sebesar 270 ribu rupiah, seperti yang tercantum di papan pengumuman, tanpa biaya tambahan (kalo menggunakan jasa calo bisa mengeluarkan uang 2 kali lipatnya).  

Sebenarnya, hati kecilku berteriak tidak setuju dengan cara seperti ini. Aku merasa secara tidak langsung telah merugikan orang lain yang mungkin juga sedang mengantri. Tetapi, di sisi lain aku juga merasa sudah dirugikan terutama oleh pengantri lain yang menggunakan jasa calo. Kadang kala, di negeri kita tercinta ini, menjadi orang yang “lurus” bisa-bisa susah sendiri. Yah, pada akhirnya, seperti kata seorang teman, aku menyadari bahwa hidup itu tidak hanya hitam dan putih, tetapi juga ada warna abu-abu. Mungkin kejadian ini adalah sedikit bagian yang berwarna abu-abu dalam hidupku. Biarlah Allah yang menilai.



1 Comment

  • kok aku di jogja nggak gitu ya? alhamdulillah masih bisa jadi orang yang lurus di sistem birokrasi yang benar juga

Leave a Reply