Wednesday, December 3rd, 2008...11:04 pm

Demi waktu…

Jump to Comments

POsting ini baru masuk ke emailku. Membacanya membuat hatiku bergetar, mata juga berkaca-kaca. Pikiran juga melayang ke Yuza, buah hatiku yang mungkin sedang tidur siang atau malah bermain. AKu membayangkan anak kecil yang ada dicerita itu adalah anakku. Akankah dia juga akan mengeluhkan waktu bermainnya yang sangat minim dengan kedua orang tuanya selama ini. Suamiku bekerja tiap hari di mulai tiap pagi sesaat setelah subuh dan baru akan pulang sesaat sebelum magrib. Aku sendiri mungkin bukanlah sosok ibu yang idea. Sebagai seorang dosen, waktu kerjaku memang cukup flexibel, tapi tak jarang juga aku harus mengikuti seminar ataupun pelatihan di luar kota. Kondisi ini menyebabkan anakku yang baru bertumbuh itu seringkali lebih banyak menhabiskan waktunya dengan nenek dan kakeknya ataupun pembantu. Saat ini, aku memeng menhadapi situasi yang cukup dilematis. Rencana studi lanjutku ke OZ tinggal di depan mata. Walaupun sudah kubulatkan tekad dengan berbekal izin suami dan keluarga besar serta nawaitu yang baik untuk mecari ilmu, tetap saja ada perih yang terasa. Ya Allah…aku mohon petunjuk dari Mu, lapangkan lah jalanku. Ku titipkan anak, suami dan keluargaku pada Mu.

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta
terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD
membukakan pintu untuknya. Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga
ketika ia akan berangkat ke kantor pagi
hari. Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa
sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar
10jam dan dibayar Rp. 400.000,-.
Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja.

Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar,
sementara Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi.
Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah
berlari mengikutinya.
“Kalo satu hari Papa dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu
jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur”
perintah Andrew. Tetapi Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya,
“Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi.
Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis.
“Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya.

Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya.

Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp.
15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah.
Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ?
Kalau mau beli mainan, besok kan bisa.”

Jangankan Rp.5.000,-
lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam.
Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan
selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga.
Tiga puluh menit aja.
Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga. Jadi, aku
mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku, hanya ada Rp.15.000,- tapi..
karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,-
maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-.
Tapi duit tabunganku kurang Rp.5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru.
Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama
ini,
tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“Bagi dunia kau hanya
seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah
dunianya”

..Nice story…money is important but certainly not everything.. .(but something :)



1 Comment

Leave a Reply