Wednesday, January 28th, 2009...8:50 pm

Kisah Kita Berawal di Januari

Jump to Comments

Kalo di salah satu lagunya, Glen Fredly melantunkan bait “…kisah kita  berakhir di Januari” maka sepertinya lagu tersebut tidaklah cocok jika dijadikan “theme song” untuk mengambarkan cerita kasih Kami (Aku dan Suami). Bagi Kami, semua kisah kehidupan sebagai patner hidup justru berawal di bulan pertama penanggalan masehi ini.

Sudah 3 tahun berlalu sejak Kami mulai mengayuh bersama perahu kehidupan yang disebut rumah tangga dengan bermodalkan niat dan tekad untuk mewujudkan suatu formasi berkeluarga yang juga diidamkan oleh banyak orang, yaitu yang sakinah, mawadah dan warrahmah. Berbekal restu dan doa dari orang tua dan keluarga lainnya, Kami berusaha terus mengayuh walau kadang kala tergoyahkan oleh riak-riak keegoisan, kesalahpahaman, dan bahkan kecemburuan. Tidak mudah memang bagi Kami, membangun kekompakan dengan perbedaan latar belakang yang cukup mencolok. Aku yang berdarah Sumatra, dibesarkan dalam keluarga multi etnis dan agama. Darah tionghua pun masih cukup kental mengalir dalam nadiku yang kemudian teraktualisasi secara nyata melalui mata ku yang sipit dan kulitku yang putih. Sedangkan suamiku adalah sosok lelaki Jawa yang dibesarkan dalam keluarga yang juga sangat menyanjung nilai-nilai kejawaannya. Di masa-masa awal, banyak percikan yang timbul, terutama antara aku, seorang menantu yang cenderung frontal dan rasional, dengan keluarga suamiku yang mengkategorikan sepak terjang ku sebagai tindak tanduk yang menjurus tidak sopan. Kalo sudah begitu suamiku lah yang harus bersusah payah menyatukan perbedaan sikap macam ini.

Tepat setahun setelahnya, sehari sebelum usia pernikahan Kami menginjak tahun kedua, tangis bayi laki-laki mungil nan lucu menjadi kado terindah buat Kami dan juga seluruh keluarga. Tak henti-hentinya Aku bersyukur atas kemurahan hati Allah yang menghadirkan matahari kecil dalam momentum yang sangat tepat. Yuza, begitu nama panggilannya, adalah cucu pertama dari kedua belah keluarga. Kekacauan pun sempat mencuat sesaat setelah dia hadir dan lagi-lagi berawal karena perbedaan latar belakang  kedua keluarga yang hidup di dua pulau berbeda berbatas selat Sunda ini. Perawatan ibu dan anak pasca melahirkan menjadi pemicu hebat yang membuahkan tangis di kedua pasang nenek dan kakek baru ini. Adat Jawa yang diusung ibu mertuaku tidaklah mungkin sama dengan adat Tionghua yang diusung oleh ibuku. Walhasil, aku yang masih cukup bingung menjadi ibu baru dilanda depresi berkepanjangan yang mengarah kepada gejala Baby Blues. Sekali lagi, suamiku harus memutar otak untuk mengatasi kemelut ini dan membuat semua pihak menjadi nyaman dan tak tersakiti.  

Seiring berjalanya waktu, Aku yakin proses pembelajaran itu tak pernah berhenti. Lambat laun semua mulai belajar memahami satu sama lain, terlebih lagi antara aku dan keluarga suami ku yang hidup berdekatan. Aku mulai belajar cara “bersopan santun” dan mereka mulai menerima sikap spontan yang kutunjukkan sebagai suatu bentuk kejujuran. Profesi utama Kami saat ini, sebagai seorang ayah dan ibu juga makin mendewasakan aku dan suamiku. Kami pun percaya, 3 tahun yang telah dilalui tidaklah cukup untuk mengantarkan Kami ke pelabuhan hidup yang sesungguhnya. Semoga 3 tahun ini berlanjut  hingga 30 tahun dan seterusnya, hingga Allah memerintahkan Kami untuk kembali kepada Nya.



Leave a Reply